Minggu, 19 Juni 2016

Teh manismu

Hari itu dengan kopi di tangan kiri karena entah tangan kananmu sibuk mengerjakan apa, kamu muncul didepanku. Tepat, arah pukul 2. Di tengah ruangan dengan beberapa orang disekitarmu kamu duduk bicara tertawa sesekali menghisap rokok yang diam di asbak depanmu. Oh, ya dia perokok. Hanya itu yang kutahu, dan satu lagi kebiasannya membetulkan rambut yang memanjang sampai pelipis. Kenapa tidak kamu pangkas saja, anak muda?
Banyak waktu terlewat dan kamu masih disana, bedanya dengan seiring waktu sudah ada aku disana menjadi bagian cerita. Menjadi entah apa dalam hidupmu pun hidupku. Anggap saja berteman, banyak malam terlewat dengan pembicaraan panjang soal hidup dan banyak hal entah berapa kali kamu terbatuk karena tersedak rokokmu sendiri atau gelas-gelas kopi yang bertambah. Semua mengalir apa adanya, jujur. Sederhana. Sampai aku sendiri merusaknya.

Sebelum semua serumit ini, masih ingatkah pembicaraan terakhir aku dan kamu? Soal teh manis. Menurutmu, perempuan itu seperti teh manis, kapan saja dimana saja akan sama. Bisa hangat bisa dingin tetap manis. Tetap menyenangkan, sederhana dan apa adanya. Entah itu teman makan atau teman ngobrol rasanya sama. Aku bukan bagian dari teh manismu, iyakan? Persis katamu.

Sekarang setelah semuanya, setelah kesalahan yang pernah terjadi hari itu aku paham semua tidak akan pernah sama. Semuanya. Bahkan aku tahu gesturemu yang enggan. Sampai-sampai aku tahu yang nggak pernah kamu ucap. Mungkin baiknya, malam itu aku biarkan saja balon itu lepas lalu terbang. Seperti katamu, kehilangan itu pasti waktunya saja yang beda. Dan aku masih naif, soal kehilangan. Tahu apa yang paling sakit dari semua ini? Kehilangan teman bicara. Ya, aku tak peduli soal semua perubahan sikap dan tingkahmu tapi yang ku tahu tak ada lagi rak untuk buku atau dongengku. Entah sudah patah atau rusak. Ternyata, aku bukan lagi bagian dari ceritamu ada terselip pun mungkin tidak. 

Aku memang tidak pernah akan bisa jadi teh manismu, entah itu pagi  atau sore. Bukan juga kopi yang menemani malam-malam panjangmu, tidak keduanya. Atau aku harus jadi Bir? yang jujur tidak perlu gula atau susu. Yang tahu semua buruk dan baik, ingin dan tidak ingin ceritamu terdengar, ajaibnya mimpi yang pernah kamu ucapkan. Mungkin begitu saja baiknya, cukup aku dan kamu yang mengerti soal semuanya. Biar saja, pertanyanku soal kamu kusimpan rapat, anggap saja jawaban itu sudah kamu jelaskan dan aku mengerti. Biar saja, aku tetap jadi buku yang tidak akan pernah kamu baca meski kamu yang menulisnya. Sejak awal, aku memang tidak pernah ada. Teh manismu itu, ah entahlah.


0 komentar:

Posting Komentar