Akhir 2013, bertemu seseorang yang mendekati perfect menurutku
namun tak menghasilkan sebuah ikatan apalagi komitmen. Meski sering jalan,
makan, antar-jemput, dan banyak hal lain yang kita lakukan bersama. Semua itu
tidak membuat ‘kami’ ingin bersama. Ah, mungkin aku ingin dia tidak. Baiklah. Aku
termasuk jenis yang santai dalam hal begitu. Tapi jauh disana, ada sebagian
besar dariku entah berapa banyak ingin bersamanya. Ceileee
Lalu kupikir itu hanya ego, lama-kelamaan bukannya pudar
perasaan nyaman dan takut ditinggalkan semakin parah. Ini tidak baik, tentu. Hubungan
kami tidak sehat. Aku sadari itu sejak lama namun dengan alasan pembenaran diri
sendiri aku terbiasa akhirnya.
Pertengahan 2014, tiba-tiba dia bersama perempuan lain. Aku?
Haha. Tak usah ditanya. Hancur-sehancurnya. Aku mungkin mengalami yang disebut
patah hati. Fase dimana amat membenci keramaian, orang-orang sekitar, lebih
suka sendirian, dan banyak hal yang membuatku jadi ‘aneh’. Seiring waktu aku
menerima keadaan , bahwa mungkin dia memang bukan untukku. Ikhlas, meski amat
perlahan. Aku mulai membaik, aku dan dia pun masih sering tidak sengaja bertemu
dan amarah yang dulu berkobar halaaah
perlahan padam. Aku menerimanya dengan “si mbak pacar baru”.
Akhir 2014, tiba-tiba aku dan si laki-laki bertemu kami
ngobrol (masih dengan cara yang sama) menceritakan banyak hal tentangku,
tentangnya, kuliah, hubungan percintaan blablabla. Rasanya tidak ada yang
berubah diantara kami. Sama sekali. Aneh
Kita makan, ditengah makan yang enak (di tempat favorit) dia
bertanya suatu hal yang menurutku terlambat. Ya. dia bertanya tentang perasaanku
terhadapnya. Setelah setahun dan dia punya pacar- setelah patah hatiku -
usahaku menata hati - bahkan sedang menyukai orang lain, dia baru bertanya. Kujawab
terang-terangan bahwa aku sudah tidak punya perasaan apa-apa. Dengan penjelasan
panjang lebar, dia hanya mendengarkan tanpa menyela pun menjawab. Malam itu,
dengan pertanyaan itu berakhir dengan kami menyelesaikan makan. Tanpa membahas
apa-apa. Waktu berjalan, kami masih bertemu beberapa kali dengan kondisi dia
masih punya pacar, namun apa yang kami lakukan tidak berubah, sedikitpun.
Pertengahan mendekati akhir 2015, dia berpisah. Being single
hehehe. Tapi, anehnya aku pun taka da keinginan untuk bersamanya. Entah,
mungkin aku hanya terbiasa melakukan banyak hal bersama tanpa ingin menjalin
hubungan. Dia pun mungkin sama. Namun, tiba-tiba dia menanyakan tentang
perasaanku lagi kali ini berindikasi untuk menjalin sebuah komitmen.Whaaat??!!
Dan kembali aku menjawab tidak. Seperti biasa dia tidak
menyanggah pun menjawab. Dibiarkan saja ini berlalu dianggap tidak pernah ada
pertanyaan apapun. Aku pun sama. Aku terlalu lama bersamanya, aku hafal banyak
hal tentangnya. Mengetahui juga memahaminya sebesar memahami diriku sendiri. Dan
memang itu kenyataannya jika pun dia ingin tahu.
Kemudian aku merenungi semuanya, tentang 2 tahun
yang begitu absurd dan tak menghasilkan apa-apa. 2 tahun dengan orang yang sama
tanpa pernah ada ikatan apa-apa. 2 tahun yang menurutku bukan waktu yang
sebentar, 2 tahun aku tetap sendiri meski sempat beberapa orang singgah namun
tetap kembali padanya, 2 tahun yang seharusnya tidak berkahir seperti ini. Kadang
aku berpikir bagaimana jika aku dulu tidak bertemu dengannya apakah akan
terjadi hal semacam ini? Apakah semua hal yang kualami akan tetap berjalan
seperti ini?
2 tahun, dan aku tetap memandangnya dengan cara yang sama.

2 komentar:
https://dittaknia.wordpress.com/2015/10/28/balasan-atau-sebagainya/ singgah sebentar di blogku :)
Waaah terimakasih, aku belum bisa menulis personal secara rapih gitu haha next time kalo bisa kubalas~
Posting Komentar