Selasa, 27 Oktober 2015

2 Tahun, Tak Ada Artinya.

Akhir 2013, bertemu seseorang yang mendekati perfect menurutku namun tak menghasilkan sebuah ikatan apalagi komitmen. Meski sering jalan, makan, antar-jemput, dan banyak hal lain yang kita lakukan bersama. Semua itu tidak membuat ‘kami’ ingin bersama. Ah, mungkin aku ingin dia tidak. Baiklah. Aku termasuk jenis yang santai dalam hal begitu. Tapi jauh disana, ada sebagian besar dariku entah berapa banyak ingin bersamanya. Ceileee
Lalu kupikir itu hanya ego, lama-kelamaan bukannya pudar perasaan nyaman dan takut ditinggalkan semakin parah. Ini tidak baik, tentu. Hubungan kami tidak sehat. Aku sadari itu sejak lama namun dengan alasan pembenaran diri sendiri aku terbiasa akhirnya.

Pertengahan 2014, tiba-tiba dia bersama perempuan lain. Aku? Haha. Tak usah ditanya. Hancur-sehancurnya. Aku mungkin mengalami yang disebut patah hati. Fase dimana amat membenci keramaian, orang-orang sekitar, lebih suka sendirian, dan banyak hal yang membuatku jadi ‘aneh’. Seiring waktu aku menerima keadaan , bahwa mungkin dia memang bukan untukku. Ikhlas, meski amat perlahan. Aku mulai membaik, aku dan dia pun masih sering tidak sengaja bertemu dan amarah yang dulu berkobar halaaah perlahan padam. Aku menerimanya dengan “si mbak pacar baru”.

Akhir 2014, tiba-tiba aku dan si laki-laki bertemu kami ngobrol (masih dengan cara yang sama) menceritakan banyak hal tentangku, tentangnya, kuliah, hubungan percintaan blablabla. Rasanya tidak ada yang berubah diantara kami. Sama sekali. Aneh
Kita makan, ditengah makan yang enak (di tempat favorit) dia bertanya suatu hal yang menurutku terlambat. Ya. dia bertanya tentang perasaanku terhadapnya. Setelah setahun dan dia punya pacar- setelah patah hatiku - usahaku menata hati - bahkan sedang menyukai orang lain, dia baru bertanya. Kujawab terang-terangan bahwa aku sudah tidak punya perasaan apa-apa. Dengan penjelasan panjang lebar, dia hanya mendengarkan tanpa menyela pun menjawab. Malam itu, dengan pertanyaan itu berakhir dengan kami menyelesaikan makan. Tanpa membahas apa-apa. Waktu berjalan, kami masih bertemu beberapa kali dengan kondisi dia masih punya pacar, namun apa yang kami lakukan tidak berubah, sedikitpun.

Pertengahan mendekati akhir 2015, dia berpisah. Being single hehehe. Tapi, anehnya aku pun taka da keinginan untuk bersamanya. Entah, mungkin aku hanya terbiasa melakukan banyak hal bersama tanpa ingin menjalin hubungan. Dia pun mungkin sama. Namun, tiba-tiba dia menanyakan tentang perasaanku lagi kali ini berindikasi untuk menjalin sebuah komitmen.Whaaat??!!
Dan kembali aku menjawab tidak. Seperti biasa dia tidak menyanggah pun menjawab. Dibiarkan saja ini berlalu dianggap tidak pernah ada pertanyaan apapun. Aku pun sama. Aku terlalu lama bersamanya, aku hafal banyak hal tentangnya. Mengetahui juga memahaminya sebesar memahami diriku sendiri. Dan memang itu kenyataannya jika pun dia ingin tahu.

Kemudian aku merenungi semuanya, tentang 2 tahun yang begitu absurd dan tak menghasilkan apa-apa. 2 tahun dengan orang yang sama tanpa pernah ada ikatan apa-apa. 2 tahun yang menurutku bukan waktu yang sebentar, 2 tahun aku tetap sendiri meski sempat beberapa orang singgah namun tetap kembali padanya, 2 tahun yang seharusnya tidak berkahir seperti ini. Kadang aku berpikir bagaimana jika aku dulu tidak bertemu dengannya apakah akan terjadi hal semacam ini? Apakah semua hal yang kualami akan tetap berjalan seperti ini?


2 tahun, dan aku tetap memandangnya dengan cara yang sama.


2 komentar:

Anonim mengatakan...

https://dittaknia.wordpress.com/2015/10/28/balasan-atau-sebagainya/ singgah sebentar di blogku :)

nadya mengatakan...

Waaah terimakasih, aku belum bisa menulis personal secara rapih gitu haha next time kalo bisa kubalas~

Posting Komentar